jump to navigation

Seribu Satu Alasan Wanita Menunda Pernikahan 14 Maret 2009

Posted by withpras in Mitos.
trackback

Dalam tradisi kita seorang wanita yang terlambat menikah bisa jadi aib bagi masyarakat. Masyarakat melabelinya dengan predikat yang merendahkan. Hal ini tentu akan semakin membuat wanita tersebut tersisih dari pergaulannya. Jika ditelaah lebih lanjut hal ini karena sikap si wanita sendiri dan tradisi yang melingkupinya. Apa saja sebenarnya masalahnya dan bagaimana cara agar mereka bisa keluar dari beban moral tersebut? Baiklah kita akan mengurai persoalan ini satu persatu

Jodoh sulit dicari, tetapi ketemu jodoh jangan lari. Agaknya kalimat itulah yang paling pas untuk menggambarkan betapa sekarang ini banyak wanita-wanita yang merasa tersisih dari pergaulan sosialnya gara-gara telat menikah. Mereka terbelit oleh sebuah mainstream pemikiran yang telah berurat dan berakar di masyarakat. Apakah sesungguhnya pemikiran salah kaprah itu dan bagaimana sesungguhnya kita harus menyikapinya?

Sepenggal Kisah

Asti (bukan nama sebenarnya) 42 tahun adalah seorang anak mbarep dari lima bersaudara dari keempat adiknya yang kesemuanya laki-laki. Seperti halnya anak mbarep, Ia juga menjadi tulang punggung bagi ayah yang sudah renta yang hanya seorang pembuat kursi dari rotan. Sedangkan ibunya sendiri adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Karena Ia adalah tipe seorang perempuan modern, mandiri dan selalu berkutat dengan dunia glamour dan terinspirasi oleh teriakan-teriakan emansipasi ke dalam pikirannya, maka Ia melengkapi dirinya dengan dunia kemodernan seperti sekolah setinggi-tingginya dan mengejar karir. Sesuatu yang mungkin sulit dicapai kecuali oleh perempuan beruntung macam dirinya.

Ketika usianya sudah merasa cukup untuk menikah, Ia merasa terusik, tergoda juga Ia untuk menikah, tetapi Ia merasa hal itu tak mungkin Ia lakukan sementara dirinya masih menyelesaikan pendidikan. Bahkan Ia semakin tak berminat untuk menikah ketika ada seorang dosen yang mengatakan padanya “Dalam sebuah penelitian, seorang wanita karir lebih terlambat untuk menikah daripada wanita yang setingkat SMA”

Ia merasa dirinya wanita karir, Ia harus mencapai gelar dahulu, kemudian bekerja sampai mapan, barulah Ia akan menikah. Pandangan seperti itu menyebabkan sampai usia di atas 30 waktu itu, Ia tak kunjung mendapatkan jodoh. Bahkan Ia menetapkan sejumlah syarat yang berat bagi seseorang yang ingin bersanding dengannya. Haruslah bertitel sama, haruslah mempunyai mahar yang tinggi. Ia secara mantap mengatakan bahwa dirinya pasti akan mendapatkan jodoh seperti yang diinginkannya.

Satu persatu lelaki yang ingin mengajak menikah dengannya akan mundur secara teratur dengan syarat yang begitu berat. Ia lebih baik mencari wanita lain dengan posisi tawar yang rendah.

Hal ini jelas berimplikasi pada adik-adiknya, tiap kali adik-adiknya ingin menikah selalu terganjal oleh Asti yang tak juga menikah, mereka merasa takut untuk melangkahi kakaknya yang tak juga menikah, karena karma dan kutukan bisa melanda Asti jika Ia tak juga menikah. Satu kali Ia dilangkahi adiknya maka akan mengakibatkan jodohnya makin seret. Inilah yang menyebabkan ibu Asti berat jika adiknya menikah duluan.

“Tapi aku sudah merasa mampu Bu”

“Kau tunggulah setahun sampai kakakmu benar-benar mendapatkan jodohnya”

“Setahun itukan lama bu”

“Tetapi kalau kau menikah dahulu, nanti jodoh kakakmu akan semakin seret” kata ibunya

“Aku tidak mau jadi anak terus bu, aku juga pengin jadi orangtua. Bisa menikah, punya anak dan punya keturunan yang kuat”

Berat dan sangat dilematis. Itulah kira-kira perasaan yang bisa tergambar dalam hati ibunya, Asti sendiri juga adiknya asti yang akan menikah. Gara-gara Asti memegang prinsip yang begitu kuat, maka bisa mengacaukan semua tatanan sosial termasuk menyengsarakan pihak lain.

Seorang perempuan dalam lingkungan sosial masyarakat kita masih lekat dengan mitos-mitos yang melingkupinya. Ia masih begitu sensitif dibicarakan. Sangat tabu jika kita mengurai tradisi dan tatanan sosial yang sudah berurat dan berakar selama berabad-abad akibat pengaruh dari keyakinan lama ataupun budaya yang bias gender. Termasuk dalam masalah jodoh ini. Jodoh yang sebetulnya telah disediakan Allah ini mereka persulit diri dengan pemikiran yang kurang pas dan tradisi turun temurun pula. Seperti dalam cerita di atas. Cara pandang bahwa seseorang itu harus menikah ketika telah mencapai kematangan finansial, itu sungguh keliru. Sebab berapa banyak dari mereka yang menikah berawal dari nol, tetapi begitu menikah mendapatkan rejeki yang berlimpah.

Fitrah Menikah

Banyak yang sudah mengalami betapa setelah menikah itu Allah sediakan rejeki sendiri. Allah berfirman dalam Al Qur’an. “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui” (An Nur 32)

Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah rejeki setelah pernikahan tidak dikaitkan dengan pernikahan itu sendiri. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi. Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut)

Selain itu, cara pandang dengan menetapkan mahar harus tinggi ini harus juga kita koreksi sebab Islam justru mengajarkan lain

Rasulullah SAW bersabda Dari Sahal bin Sa`ad bahwa nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata,”Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu”, Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata,” Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya”. Rasulullah berkata,” Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? dia berkata, “Tidak kecuali hanya sarungku ini” Nabi menjawab,”bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu”. Dia berkata,” aku tidak mendapatkan sesuatupun”. Rasulullah berkata, ” Carilah walau cincin dari besi”. Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi,” Apakah kamu menghafal qur`an?”. Dia menjawab,”Ya surat ini dan itu” sambil menyebutkan surat yang dihafalnya. Berkatalah Nabi,”Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur`anmu” (HR Bukhori Muslim).

Jika wanita itu lebih lunak sedikit, dan tidak menetapkan peraturan hingga sedemikian ketatnya, tentu tidak akan terjadi masalah sosial. Jelas sekali permasalahannya karena sikap si wanita sendiri yang picik pandangan. Ia membatasi jodohnya dengan kualifikasi tertentu layaknya sebuah sayembara. Dalam konteks zaman sekarang ketika jumlah wanita sudah lebih banyak daripada laki-laki, cobalah kita bersikap arif dan tidak menelurkan syarat yang bermacam-macam yang akan menyebabkan kesulitan jodohnya. Didalam Islam coba kita lihat bersama-sama, Rasulullah menetapkan mahar itu tidak terlalu tinggi, tetapi semampunya. Mahar bukan menjadi seseorang menjadi terhalang pernikahannya. Berhentilah berpikir bahwa menikah adalah beban hidup, tetapkan tujuan dalam diri anda bahwa menikah adalah satu langkah yang pasti menuju ridlo Allah. Singkirkan jauh-jauh kalau sebelum pernikahan itu persiapan kita harus benar-benar matang, singkirkan semua itu.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: