jump to navigation

Sumpah Palapa, Distorsi Sejarah yang Bias Gender 14 Maret 2009

Posted by withpras in Sejarah.
trackback

patung gajahmada yang selama ini kita ketahui

Sumpah Palapa adalah upaya untuk mengekalkan sejarah persatuan nusantara yang dianggap sebagai cikal bakal Indonesia. Dari sejarah yang kita baca, sumpah palapa adalah upaya dari Mahapatih Gajahmada dan Hayam Wuruk pada masa-masa keemasan Majapahit yang berambisi untuk meluaskan wilayah ekspansi sekaligus ide tentang negara maritim dalam satu wilayah kesatuan pemerintahan. Belakangan ternyata fakta sejarah berkata lain

Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan masyhur di Jawa karena letaknya yang strategis. Sebagaimana lazimnya sebuah kerajaan. Ia membutuhkan balatentara yang kuat, keamanan yang berlapis-lapis serta pengakuan kedaulatan yang saat itu berupa ekspansi wilayah. Wilayah Majapahit sendiri waktu itu sangat luas. Pada masa kerajaan Hayam Wuruk di tahun 1350 hingga 1389 M. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali dan Filipina, bahkan tak hanya itu mereka juga menguasai wilayah di Vietnam dan Indocina. Oleh karena itu dalam sejarah Indonesia, Majapahit dianggap sebagai salah kerajaan Hindu terakhir sekaligus sebagai negara terbesar yang dipimpin oleh bangsa Jawa

Sumber Primer
Sayangnya, sejarah sebesar itu tak dirawat dengan baik, tak berusaha direstorasi untuk menemukan bukti-bukti yang lebih otentik tentang keberadaan kerajaan besar ini. Kita hanya mengenal dua sumber primer sejarah yang menceritakan keberadaannya. Yakni kitab Pararaton dalam bahasa kawi dan Negarakertagama yang merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa Hayam Wuruk, selain itu beberapa prasasti dan berita-berita Cina yang sejalan dengan kedua sumber primer di atas juga dikaji sebagai sumber sejarah.

Kritik Sejarahwan
Namun, kedua sumber sejarah tersebut tak lepas dari kekritisan para sejarahwan. Berg misalnya mengatakan bahwa sumber-sumber itu tak dapat menjadi pegangan an sich karena didalamnya terdapat mitos dan unsur non historis. Bahkan menurut Beliau, sumber-sumber sejarah itu mengandung unsur-unsur supranatural atau tentang ramalan masa depan.
Salah satu yang diceritakan dalam sumber sejarah itu adalah Sumpah Palapa yang dilakukan oleh Gajahmada semasa pengangkatannya menjadi mahapatih di Majapahit, setelah sebelumnya Ia menjadi patih di kerajaan Kediri juga. Kisah tentang sumpah palapa ini bisa dilacak di Kitab Negarakertagama. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk Gajahmada bersumpah akan menaklukkan seluruh wilayah. Pada gilirannya sumpah palapa ini yang menjadi inspirasi untuk mendirikan negara kesatuan republik Indonesia.

Legitimasi Sejarah
Hanya saja dalam perjalanannya, terdapat beberapa kekeliruan pencatatan sejarah dalam Sumpah Palapa tentang data-data sejarah yang diungkapkan. Ada skenario halus dari para penulis sejarah waktu itu untuk melegitimasi sejarahnya sendiri, sesuai dengan versi yang dikehendakinya saat itu. Ada beberapa fakta menarik, yakni sumpah palapa itu ternyata diucapkan ketika semasa Tribhuana Tunggadewi, raja sebelum Hayam Wuruk. Kemudian dilihat dari sumbernya yakni kita negarakertagama yang sulit bagi kita untuk mengetahuinya, karena berbahasa Jawa Kuno dan berupa puisi-puisi dari para pujangga waktu itu, menyebabkan tafsir sejarah yang berkembang kadang dibelokkan sedemikian rupa untuk membela budaya laki-laki.
(patriarki)

Fakta Baru
Adalah I Ketut Riana, dosen Universitas Sastra yang menerjemahkan salah satu sumber sejarah yang saat ini tak banyak diketahui orang, yakni Kakawin Gajah Mada atau Nyanyian Gajah Mada. Beliau mengungkapkan fakta baru bahwa Sumpah Palapa Gadjah Mada tidak diucapkan pada zaman Raja Hayam Wuruk, tetapi pada zaman raja Majapahit sebelumnya, yakni Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.
Fakta lain juga mengungkapkan, Majapahit menyerbu Bali bukan pada zaman Raja Sri Kresna Kepakisan, tetapi pada zaman Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi, ibu dari Raja Hayam Wuruk. Adapun Sri Kresna Kepakisan bukanlah Raja Majapahit, melainkan orang yang dipersiapkan untuk menjadi raja di Bali.
Naskah sebanyak 93 daun lontar itu, setiap lembar daun lontar ditulis secara bolak-balik, dengan empat baris tulisan, kecuali pada halaman pertama. Sedangkan proses penerjemahannya memerlukan waktu sekitar satu tahun, sepanjang tahun 2007.
Penerjamahan yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali, Prof. DR I Ketut Riana ini, rencananya akan dilanjutkan dengan pembuatan buku. Namun hingga saat ini, pihak-pihak yang ditawari untuk menfasilitasi penerbitan itu, seperti Bupati Mojokerto, Swasta dan Dinas Persenibud Jatim, belum memberikan tanggapan.
Melalui fakta terbaru ini membuktikan bahwa perempuan setidak-tidaknya tetap punya peran dalam mengubah sejarah. Sejarah juga tidak selamanya berkutat pada kaum laki-laki saja. Sebab kepemimpinan perempuan dalam catatan sejarah tak hanya Tribuana Tunggadewi seorang, tetapi masih banyak pemimpin perempuan yang sebenarnya perannya begitu besar tetapi tidak begitu tercatat dalam sejarah. Mungkin kita masih ingat Ratu Shima ratu di Kalingga (Jepara) yang terkenal adil dan keras. Atau sosok Ken Dedes di Singasari
Sesungguhnya, perempuan sejak zaman dulu, seperti halnya laki-laki, banyak yang mempunyai peran lebih dalam kehidupan. Artinya bukan hanya sekadar menjadi wanita biasa-biasa saja seperti pada umumnya wanita. Ia mempunyai kelebihan karena mampu menjadi pembangkit perjuangan, pendobrak keterpurukan, pelopor kebangkitan, pemberani dalam menghadapi penderitaan dan sejenisnya.
Ada hal lain yang juga ikut membuat wanita menjadi terkenal, yaitu karena perjuangannya yang relatif sangat berani keluar dari kemapanan tradisi atau sistem kemasyarakatan untuk mencapai cita-cita memandirikan wanita (kasus Kartini, Dewi Sartika, Walanda Maramis, Supeni dan Rangkayo Rasuna Said, dll). Atau karena keprihatinannya menghadapi situasi yang menyudutkannya, namun acapkali perannya tidak kentara seiring dengan dominasi sejarah kekuasaan yang hanya dimiliki oleh kaum laki-laki

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: