jump to navigation

Memasung Gairah Hidup di Selasar Rumah Sakit 17 Maret 2009

Posted by withpras in Hikmah.
trackback

kisah-1-copy
“Aku telah bermimpi yah…..aku seolah-olah telah sembuh dari penyakit menahunku itu, kemudian aku memasuki sebuah taman dengan aneka bunga yang warna-warni dan aku berlari-lari didalamnya”

Seorang anak tergolek lemah dalam posisi miring, seorang ayah yang duduk di sampingnya hanya bisa menangis pilu. Meskipun tangisan itu hanya berujud gemuruh air terjun yang tersimpan didadanya. Tetapi dicoba ditahan-tahannya, tangis itu tetap saja pecah. Bulir-bulir air mata menetes, melewati lekukan-lekukan pipinya yang keriput. Ia sangat pilu dengan keadaan anaknya, betapa Ia punya harapan sembuh yang sangat besar, Ia berusaha berjuang mengalahkan rasa sakit itu, tetapi perjuangannya belum berujung pada kemenangan.

RS Roemani Semarang, atau tepatnya di Ruang Usman, seorang anak tergolek tak berdaya selama kurang lebih satu tahun lebih. Ia berasal dari Bandung, kuliah di Universitas Pajajaran. Semangat hidupnya terus tumbuh seiring dengan gairah mudanya, Ia aktif di berbagai organisasi, jurnalistik kampus, kegiatan pecinta alam dan sebagainya, hingga pada suatu hari karena Ia terlalu sibuk dengan kegiatannya dan tak diimbangi dengan kesehatannya Ia jatuh sakit.
Dokter memvonis Ia sakit kuning atau liver, kukunya kuning, matanya kuning dan cekung. Bahkan cobaan itu belum juga berakhir ketika tiba-tiba Ia juga mengalami usus buntu dan harus dioperasi.
Komplikasi penyakit itulah yang menyebabkan Ia sakit menahun atau sakit tahunan. Saking lamanya Ia sakit dan punggungnya selama bertahun-tahun tak pernah terkena sinar matahari, kemudian jadi lembab dan terkelupas. Remah-remah kulit ari yang telah mati rontok di pembaringannya.
Sementara aku yang berada di sebelahnya hanya bisa menyaksikan betapa kuatnya laki-laki yang satu ini, harapan hidupnya sangat besar. Ia adalah sosok tetangga yang baik, terbukti dalam keadaan lemah, Ia berkenan berbagi denganku, diberikannya separuh rotinya untukku. Ia juga bercerita tentang mimpi-mimpinya dan apa yang akan Ia lakukan begitu Ia benar-benar sembuh.
Aku sendiri disini juga terkena penyakit yang sama, hanya saja masih gejala. Hari pertama aku merasakan mual dan muntah hingga kejang-kejang, hari kedua lebih banyak beristirahat, sedangkan hari ketiga ini aku mulai dapat berinteraksi dengan keadaan di sekelilingku.
Hari kelima, aku mengenal pasien di sebelah tempat tidurku ini. Ia bertubuh tinggi, kurus dan tubuhnya habis dimakan penyakit. Tetapi Ia sangat menikmati rasa sakitnya itu. Ia juga punya sosok ayah yang pandai menghibur dan terus berbesar hati merawat anaknya ini
“Sakit sekecil apapun, tertusuk duri misalkan, Allah akan menghapus dosa-dosa si sakit”
“Jadi dosa-dosaku hilang Pak?”
“Semoga saja”
Aku mendengar percakapan itu jadi trenyuh. Betapa aku tidak bisa seperti anak itu, betapa dalam keadaan sakit ini aku menginginkan banyak hal termasuk ingin dibelikan makanan yang enak-enak atau aku ingin seluruh keluarga memanjakanku dan melihat keadaanku
“Pahit!” kataku sewaktu menerima roti dari sebuah toko ternama”
“Kau sabar saja. Orang sakit itu segalanya memang tidak enak”
“Nggak mau, pokoknya aku minta lagi”
Aku kembali merengek. Apalagi melihat makanan rumah sakit yang seperti makanan sampah.
“Kau lihat orang di sebelahmu, dia itu lebih parah dari kamu, tetapi ibu lihat dia menerima apa adanya, nggak kayak kamu yang terlalu banyak tuntutan”
“Aku tidak peduli, aku ingin makan yang enak-enak”
“Kalau kita sabar dengan rasa sakit yang kita hadapi Allah akan karuniakan pahala, kalau kita tidak sabar dan banyak mengeluh, maka Allah juga akan hadapkan kita pada siksaan”
Itulah salah satu sikap kemanjaanku tentu harusnya aku malu dengan tetangga di sebelah tempat tidurku ini, Ia sangat pasrah dan menerima segalanya
Hari ke delapan aku boleh pulang. Aku berpamitan dengannya dengan penuh rasa haru
“Semoga cepat sembuh mas!” kataku
“Terima kasih” Ia memelukku sambil menepuk punggungku. Dalam keadaan lemah seperti itu pancaran matanya tetap bening, aku belajar banyak hal disini. Ternyata bahwa kehidupan memang begitu berwarna, ada orang yang sepanjang hidupnya hanya dikaruniai sakit, tetapi Ia tetap berjuang untuk sembuh, kesabarannya sungguh luar biasa, aku kagum padanya.
Aku jadi tahu bahwa kesabaran itulah yang membuat Allah sayang padanya dan terus menguji hambanya hingga pada puncaknya Ia menjelma menjadi pribadi yang tertempa. Ia akan keluar sebagai pemenang, dan tentunya Ia akan mendapatkan keuntungan yang besar.
Terakhir aku dengar kabar Ia meninggal. Hal ini aku tahu setelah satu bulan berselang aku menengok temanku yang juga berada di rumah sakit ini. Iseng-iseng aku keluar sebentar dan mencoba mencari pasien ini.
“Pasien bernama Didin Sus?”
“Hmmmmm….Ia sudah tidak ada empat hari lalu”
“Maksudnya?”
“Penyakitnya bertambah parah dan Ia meninggal”
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” ucapku
Ah, betapa beruntung dia, Ia akhirnya benar-benar memenangkan pertarungan ini. Allah menghadiahkan sesuatu yang terbaik untuknya. Betapa jalannya sangat lurus saja, dan diakhir hayatnya Ia menjadi orang yang sangat pasrah dengan kehendak Allah ini. Selamat jalan Didin!
(Kisah ini aku persembahkan untuk seorang pasien yang berjuang melawan penyakitnya—withpras)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: