jump to navigation

Alienasi dan Ketersingkiran di Sudut Gelap Dunia Patriarki 21 Maret 2009

Posted by withpras in Sejarah.
trackback

supergirl
Babad Penindasan Perempuan
Ibarat pepatah, kalau cinta sudah melekat maka dunia serasa milik berdua, begitulah kiranya ketersingkiran wanita dalam peradaban, seakan-akan kaum laki-laki ingin mengatakan dunia hanya milik laki-laki, para perempuannya hanya boleh mengontrak. Seberapapun besar perjuangan mereka, toh itu semua tenggelam dalam sejarah laki-laki.

Terlalu banyak filosof misoginis yang dengan pandangan-pandangannya tak memberikan ruang sedikitpun bagi wanita untuk dikenal dalam sejarah. Padahal perannya tak kalah dibanding laki-laki. Konon otak wanita lebih kecil daripada laki-laki, dengan sendirinya intelektualitasnya lebih terbatas dibanding laki-laki. Padahal sesungguhnya tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil melainkan fungsinya saja yang berbeda. Didalam sebuah penelitian, otak dipengaruhi oleh hormon, testosteron untuk laki-laki dan estrogen untuk perempuan, hormon itulah yang mempengaruhi perilaku, pola komunikasi dan kebudayaan yang berkembang selama berabad-abad, hormon itu pulalah yang menjadikan pemilahan budaya antara laki-laki dan perempuan dengan sudut yang sedemikian berbeda.

Tercipta Berbeda
Budaya menjadi lebih patriarki dan memingggirkan perempuan ke sudut-sudut peradaban sejarah dan sedikitpun tak pernah tercatat dalam pentas peradaban, karena sifat perempuan sendiri yang tidak seagresif laki-laki. Berdasarkan penelitian Dr Louann Brizendine, dokter neuro-psikiatri, direktur Womens And Teen Girls Mood And Hormon Clinic mengatakan bahwa Anak perempuan lebih suka menghindari konflik karena perselisihan membuat mereka tidak selaras dengan dorongan naluri untuk tetap terhubung dengan orang lain, untuk mendapatkan persetujuan dan pengasuhan. Anak perempuan memiliki impuls yang kuat untuk membentuk ikatan sosial yang didasarkan pada komunikasi dan kompromi. Sebaliknya, anak laki-laki tidak pernah mengkhawatirkan risiko akan timbul konflik. Persaingan merupakan bagian dari karakter mereka. Mereka tidak takut berhantam dan beradu pukul. Penelitian menunjukkan lagi bahwa permainan mereka biasanya tentang interaksi dalam hubungan pengasuhan dan perawatan. Sebaliknya, permainan anak laki-laki biasanya tentang peringkat sosial, kekuasaan, pertahanan wilayah, dan kekuatan fisik.

Pola-Pola Penguasaan
Kesan timpang ini makin terasa dan mendapatkan pengabsahan dengan hadirnya pola-pola kekuasaan yang sejak dulu terbentuk, baik dalam kepercayaan ataupun mitos-mitos yang tumbuh dalam kesadaran kolektif masyarakat. Carl Gustav Jung menjelaskan bahwa mitos terbentuk dari arketipe-arketipe yang ada pada tataran kolektif bawah sadar. Sebagai contoh mitos yang berkembang adalah menempatkan sosok Tuhan pada jenis kelamin laki-laki. Dalam beberapa agama samawi mereka juga mengonstruksikan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, dan ini diterima sebagai kebenaran karena telah dilabel sebagai wahyu. Mitos yang terbentuk dalam dongeng, agama dan bentuk-bentuk arketipe sejarah ini kemudian menjelma sebuah konsepsi sebuah hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak menguntungkan perempuan dan mempunyai implikasi terbentuknya jejaring struktur kekuasaan.

Penindasan Perempuan
Dalam bahasa yang lebih progresif kita menamakannya penindasan, sebuah istilah untuk peminggiran dan pengucilan peran perempuan dari sebuah kerja peradaban yang sesungguhnya punya andil yang seimbang. Akan kita lihat nantinya bagaimana laki-laki dan perempuan sesungguhnya punya peran yang sama, tetapi berbeda dalam fungsi dan jenis-jenis pekerjaan yang akan mereka lakukan, namun sebelumnya akan kita lihat bagaimana contoh-contoh penindasan perempuan ini telah terjadi selama berabad-abad dan selalu dilestarikan oleh sejarah.

Pelengkap Derita
Orang sering mengatakan perempuan adalah objek eksploitasi belaka. Didalam animo biologi, tabiat perempuan adalah untuk dilihat, sedangkan laki-laki adalah untuk melihat. Sebagai contoh perilaku burung merak betina yang merentangkan ekornya yang bagus jika melihat jantannya, atau perilaku kucing betina yang menyemprotkan cairan tertentu untuk memikat jantannya. Didalam cerita-cerita yang berkembang dalam legendapun, maknanya selalu sama, wanita sebagai objek pelengkap penderitaan, seolah-olah dalam hidupnya Ia tak pernah mengalami kesenangan sedikitpun.
Ken Dedes, istri Tunggul Ametung yang diculik Ken Arok dan dianggap sebagai ibunya raja-raja di tanah Jawa hanya menjadi objek penderitaan dari ambisi dan kekuasaan Ken Arok, Ia tak berdaya saat dirinya diculik, dikawini tanpa dasar cinta. Ia juga tidak berdaya setelah mengetahui bahwa suami keduanya adalah pembunuh suami pertamanya yakni pembunuhan Tunggul Ametung oleh Ken Arok.
Selain itu kita juga mengenal Roro Jonggrang, seorang perempuan yang menjadi korban kejahatan Bandung Bandawasa dikarenakan dengan kecerdikannya meniru tanda-tanda alam untuk mengubah suasana malam menjadi pagi hari dengan berbekal lesung. Roro Jonggrang menjadi korban kejahatan laki-laki setelah secara keji, Ia menjadikannya patung untuk melengkapi arca ke seribu seperti yang telah dijanjikan. Tidak hanya itu, para gadis di sekitar Prambanan juga disumpah akan tetap menjadi perawan tua akibat ulah Roro Jonggrang. Ini semua akibat kesalahan fatal Roro Jonggrang mempermainkan laki-laki yang punya segudang atribut superioritas laki-laki, mulai dari kegagahan berperang dan jin-jin sakti. Sekali lagi cerita ini membuktikan bahwa superioritas laki-laki di atas segalanya, wanita tetap dipaksa untuk kalah walaupun Ia cerdik setengah mati.

Hasrat Memberontak
Tapi tak semua wanita mengalami penindasan terus menerus, seiring dengan waktu yang kian berjalan, kedewasaan alam pikir masyarakat, kemudian banyak menyerap dari nilai-nilai budaya modern, wanita kemudian menjadi berani dan keluar dari kungkungan tradisi yang telah memenjarakannya selama berabad-abad. Indonesia pernah punya Kartini yang mengilhami adik-adiknya, Rukmini dan kakaknya Sosrokartono untuk mendirikan sekolah khusus wanita, embrio dari sekolah dasar yang ada di nusantara, yakni sekolah khusus kaum pribumi yang sampai sekarang begitu gemilang. Selain itu ada juga Dewi Sartika, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, mereka semua menjadi harum namanya karena perjuangannya yang relatif berani untuk keluar dari kemapanan tradisi dan kemasyarakatan untuk mencapai cita-citanya. Atau karena keberaniannya di medan perang seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia dan Kristina Martha Tiahahu. Wanita-wanita ini menjadi terkenal karena kesadaran mereka bahwa mereka tertindas, mereka kemudian punya bekal pengetahuan yang cukup, selain juga kecakapan bahwa mereka bisa menjadi seperti itu karena belajar dari pengalaman, pendidikan barat yang mencerahkan. Di satu sisi mungkin kita mengecamnya kalau pendidikan barat itu penuh dengan nilai-nilai standar ganda, tetapi di sisi lain nilai-nilai yang tercerahkan dari semangat weltanschaung itu benar-benar menginspirasi mereka untuk keluar dari tatanan tradisional yang membelenggu mereka.

Keunikan
Wanita dan laki-laki adalah unik, feminisme meskipun menelurkan pandangan bahwa wanita harus punya partisipasi seperti halnya laki-laki, tetapi sebetulnya itu hanya wacana, wanita punya kelemahan dalam mengambil keputusan, tidak mampu untuk menggarap pekerjaan yang bersifat praktis dan fisik, tetapi akan berhasil untuk pekerjaan yang bersifat kerajinan dan ketrampilan yang lemah lembut, dan sebagainya.
Kekuatan wanita sebenarnya terletak pada kelemah lembutannya, berada di belakang layar dan mengendalikan laki-laki yang berada di tampuk kekuasaan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: