jump to navigation

Pengalaman Esoterik dari Puisi yang Terlarang Si Burung Merak 21 Maret 2009

Posted by withpras in Hikmah.
trackback

12051216451

DOA SEORANG PEMUDA RANGKASBITUNG DI ROTERDAM
Bait pertama
Bismillahir rohmanir rohiim

Allah ! Allah !
Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku
yang menyembul dari selimut.
Aku membuka mata
dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara
di dalam jiwa.

Burung-burung terbakar di langit
dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin
jatuh di atas air
hanyut di kali, dibawa ke samodra,
disantap oleh kawanan hiu
yang lalu menggelepar
jumpalitan bersama gelombang.

Bait ke delapan
Suara apakah itu ?
Electronic music ?
Jam berapa sekarang ?
Apakah sudah terlambat untuk salat subuh ?
Buku-buku kuliah di atas meja.
Tanganku menjamah kaca jendela.
Dan dari jauh datang mendekat :
wajahku.
Apakah yang sedang aku lakukan ?
Ya Allah Yang Maharahman !
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku harus berenang melawan arus ?
Astaga ! Pertanyaan apa ini !

Apakah aku takut ? Ataukah aku menghiba ?
Apakah aku takut lalu menghiba ?
Pertanyaan apa ini !
Ya, Allah Yang Maharahman.
Aku akan menelpon Linde
dan juga Adrian.
Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda.
Tanganku mengepal di dalam air
tercemar sampah peradaban.
Tidak perlu aku merasa malu
untuk bicara dengan imanku.

Allah Yang Maharahman,
Imanku adalah pengalamanku.
Bojong Gede
6 Nopember 1990
Rendra

Bait puisi di atas tak sekedar puisi tetapi sebuah pengalaman esoteris dari Wilbrodus Surendra Broto Rendra, atau yang kita kenal dengan Rendra saja. Kenapa dikatakan sebuah pengalaman esoteris karena didalamnya kita bisa menyaksikan ekstase Rendra dengan lebih banyak kalimat-kalimat Allah yang diintrodusir ke dalamnya. Sungguh sangat jarang misalnya, seorang penyair menjadikan kalimat bismillahirrohmanirrohim sebagai larik dalam puisinya. Ini menandakan betapa religiusnya Ia sekarang. Dalam muallaf center online Ia mengungkapkan bahwa baginya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanannya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an.
Sebagai penyair, Ia selalu berusaha konsisten dengan sikapnya. Bagi saya, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan. Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja, begitu ungkapnya.
Orang-orang seperti Rendra ini sangat tepat untuk memilih hati nuraninya, Islam sangat membela hati nurani, sebab hati nurani adalah fitrah yang dimiliki seseorang untuk selalu berkiblat pada kebenaran. Begitu berpihak pada hati nurani maka puisi-puisinya bisa menjadi sangat tajam hasil dari perenungannya tentang masalah-masalah sosial kemanusiaan juga sandaran vertikalnya pada Allah.
Maka tak heran, jika yang mendengar puisi ini—terutama orang-orang yang salah kemudian bergetar hatinya, dirasakan kekuatan yang terkandung sangat dalam dan mampu melecut nurani seseorang dan menyadarkannya. Orang-orang yang masih gelap mata ini kemudian merasa tersindir dan puisi Rendra ini kemudian dicekal, tak boleh ditampilkan.
Kamis malam, 8 November 1991, TIM (Taman Ismail Marzuki) kembali berguncang. Tetapi, itu bukan karena ulah Rendra yang biasa membaca puisi “panas” yang sarat dengan kritik sosial. Persoalannya justru timbal karena pihak berwajib (Polda Metro Jaya) tidak mengizinkan sang Penyair kondang ini membacakan dua buah puisinya yang berjudul Demi Orang-orang Rangkas Bitung dan Doa Seorang Pemuda Rangkas Bitung di Rotterdam.
Apa sebabnya sehingga dua judul puisi itu tidak boleh dibacakan, memang belum jelas. Barangkali karena dua puisi tersebut dikhawatirkan akan membuat keresahan di masyarakat. Tetapi, masyarakat mana yang diresahkan oleh puisi Rendra tersebut? Wallahu a’lamu
Tetapi dalam kacamata PESAN-Trend, puisi ini dilarang dibacakan karena Rendra mengkritik hati nurani yang saat itu masih gelap gulita. Dan sama seperti orang-orang yang menolak menerima kebenaran, mereka tidak tahan kritik dan menganggap kritik harus diberangus, padahal kritik itu didasarkan atas hati nurani Rendra yang bening, terlebih setelah Ia memilih Islam sebagai jalan yang akan ditempuh di akhirat kelak.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: