jump to navigation

Tekanan Hidup Bukan Penghalang untuk Ikhlas Berbuat Sesuatu 21 Maret 2009

Posted by withpras in Muhasabah.
trackback

ibadah-ikhlas1
Bahagia dan tidaknya perasaan kita tergantung dari kita sendiri yang merumuskannya

Kehidupan terus berjalan, sementara kita tak bisa kemana-mana, jangankan untuk berbuat baik pada orang lain. Mengasah diri kita untuk menjadi baik dari hari kemarin saja sulitnya setengah mati. Muncul ketakutan-ketakutan tersendiri dalam diri kita, jikalau kita tua, jikalau umur kita sudah tak panjang lagi, tiba-tiba kita meninggal tanpa pernah melakukan amal shalih yang kita rencanakan jauh-jauh hari, tentunya kita menjadi tidak bahagia bukan.

Perlahan-lahan waktu akan terus menua, hari ini akan menjadi masa lalu untuk esok hari, hari esok yang akan kita lewati—tanpa kita pernah berpikir kita mampu melewatinya akan menjadi tinggal puing-puing tak tersisa seiring dengan hilangnya kepercayaan diri kita untuk tetap menjadi manusia.
Menjadi manusia itu tak sekedar makan, minum, buang kotoran ataupun melakukan rutinitas yang menjemukan. Menjadi manusia itu, khalifatullah fil ardli, itulah sulitnya. Ini menyangkut tugas peradaban yang begitu kita junjung tinggi dan akan kita persembahkan pada Allah, begitu kita ditanya tentang satu masalah besar kelak “Hidupmu kau gunakan untuk apa? Kesempatan yang Allah berikan padamu kau habiskan di jalan mana?” Atau seandainya kita mempunyai harta benda, kelak itu juga yang akan ditanya “Hartamu berasal darimana dan kau belanjakan untuk apa?” Ilmu yang kau punyai, ketrampilan yang kau miliki, skill dan keahlian, ataupun seluruh sarana dunia baik itu mobil, kendaraan, rumah, intenet yang kita pakai, itu semua tidak semata-mata gratis, semua dipertanggungjawabkan pada Allah. Seandainya ini semua gratis, mengapa harus ada surga dan neraka, seandainya ini semua gratis mengapa Allah ciptakan malaikat yang mengawasi seluruh amal perilaku kita setiap saat tanpa kenal lelah. Mengapa kita tidak jadi hewan atau tumbuhan yang tidak mempunyai surga selain dunia saja. Ternyata hikmah di balik terciptanya surga dan neraka itu terdapat kandungan yang teramat besar, yakni semangat kita untuk mempersembahkan yang terbaik seiring dengan tugas kita menjadi khalifatullah fil ardli.

Tekanan Hidup
Kembali pada kegagalan manusia untuk mempersembahkan amal shalih, timbul semacam ketakutan-ketakutan tersendiri dalam alam bawah sadar kita. Muara dari seluruh petaka dan hidup yang terus dilibas waktu ini akibat berbagai macam tekanan dan perasaan yang kita ciptakan sendiri. Kita bahagia, kita sedih, kita menyesal, atau kita berduka, semua adalah kita yang menciptakan sendiri. Kita yang menciptakan persepsi-persepsi negatif itu dari dunia yang serba muram, kemudian dicocok-cocokkan dengan keadaan sekarang. Jika perasaan kita sedang hancur atau duka yang teramat mendalam karena sebuah peristiwa yang sangat tragis kita alami. Tiba-tiba dunia serasa gelap, langit tiba-tiba mendung dan seluruh manusia seolah-olah benci padanya, dukanya tak ada yang mengobati, temannya tidak ada yang peduli, bahkan sahabat karib yang biasanya menghiburnya, menemaninya tiba-tiba meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, itu semua karena persepsi negatif kita, perasaan yang kita ciptakan sendiri hasil dari olah pikiran untuk menggeneralisasi keadaan seolah-olah sama dengan kejadian yang kita alami.

Contoh Nyata
Seorang tua tiba-tiba berkata dalam hatinya “Hidupku sudah tak berguna, aku sudah tidak sepantasnya lagi hidup di dunia, aku adalah bangkai berjalan, bau tanah dan hanya menanti ajal” maka tiba-tiba Ia akan menilai segala sesuatu di sekitarnya menjadi negatif. Seorang cucu yang menawarkan sebuah bubur ayam yang masih hangat dikiranya mengejeknya sebagai kakek ompong yang sudah tak pantas makan nasi, padahal bubur disajikan bukan dalam rangka mengejek, tapi semata-mata demi kesehatan karena dalam usia tua tak mungkin makan sesuatu yang berat, lambung sudah tak kuat mencernanya.
Kehidupan orangtua ini semakin mengenaskan tatkala cucu-cucunya hadir dan membuat suasana kian ramai dan menyejukkan, tetapi justru dipahami lain oleh orangtua ini. Saat cucunya menonton film kartun di sebuah televisi dan tertawa lepas, dikiranya tawa itu untuk dirinya sebagai kakek ompong peyot yang kelihatan lucu seperti orang-orangan sawah.
Ternyata sebuah peristiwa bisa dipahami lain oleh orang lain sesuai dengan bagaimana keadaan mereka saat itu. Seandainya perasaan mereka sedang senangpun, mendengar sebuah keluarga yang cekcok, piring-piring yang berhamburan bisa menjadi sebuah musik alunan syahdu yang memanjakan telinga. Begitu juga saat kita jatuh cinta, seandainya pacar kita kentutpun baunya akan sewangi bunga tujuh rupa, atau gigi yang kelihatan sedikit kuning dengan selipan lombok di sela-selanya, tetaplah nampak menarik karena perasaan kita sedang bersenandung untuk si dia.
Begitu juga sebaliknya, seandainya perasaan kita sedang kalut, bunga-bunga kesedihan sedang membalut perasaan duka kita, maka mendengar suara burung yang mencericit riang di atas pohon saja rasa-rasanya seperti sedang mendengar guntur di telinga kita.

Prinsip Air Mengalir
Sebetulnya, ada dua pola tekanan yang satu demikian cantiknya sehingga tidak dirasakan sebagai tekanan dan yang satu lagi demikian menyiksanya sehingga merenggut seseorang keluar dari kenyamanan rumah tangganya dan menjadikan jalanan sebagai tempat tinggalnya. Namun, tidak sedikit pribadi yang mengalami perubahan dari tidak serius menjadi lebih serius dalam bekerja, lebih rajin dalam berjuang menjalankan usaha dan bisnis justru ketika Ia mengalami tekanan berat dalam hidupnya.
Tekanan-tekanan yang menghimpit kehidupan kita tidak seharusnya menjadikan diri kita lalai dalam tugas kekhalifahan, jadi apapun diri kita dan dalam keadaan senang atau terpaksa dalam keadaan senang atau berduka, toh kita tetap harus melakukan fungsi kita sebagai kekhalifahan dengan terus berbuat sesuatu dan beramal baik. Kunci dari semua itu adalah ikhlas. Ikhlas membuat langkah kita ringan, Ia adalah energi amal shalih kita yang sempat tertahan dikarenakan kita terlalu menuruti perasaan kita yang tidak karuan itu.
Berprinsiplah seperti air mengalir, walaupun banyak kotoran-kotoran menghadang, air akan terus berjalan, perlahan tapi pasti. Air yang terus mengalir sedikit demi sedikit akan merontokkan kotoran yang menghadang. Begitu juga dalam kehidupan ini, terus saja berjalan dan melakukan sesuatu, jangan sampai mandek dan larut dalam godaan perasaan kita sehingga malah kita tidak melakukan apapun. Ini yang salah, terus saja melakukan sesuatu, jangan pedulikan perasaan kita yang seringkali berubah-ubah itu.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: