jump to navigation

Fase-Fase Kehidupan Awal Manusia yang Konon Harus Diselamati 23 Maret 2009

Posted by withpras in Mitos.
trackback

baby3Penjagaan Jabang Bayi dari Marabahaya
Jawa punya tradisi yang unik dengan mengubur ari-ari diiringi dengan benderang lampu bolam. Tak hanya itu, ari-ari, air ketuban, darah dianggap sebagai saudara si jabang bayi, dan dianggap sebagaai penjaga sang bayi Mengapa hanya soal ari-ari saja begitu diributkan? Inilah yang menjadi persoalan

Seandainya kita bisa tarik mundur lagi ke belakang, sesungguhnya Jawa bisa sedemikian kaya akan prosesi dan ritual yang ngayawara—karena persinggungan dengan Hindu selama berabad-abad. Jangankan ketika seseorang itu memperoleh kelimpahan syukur, dalam tiap fase kehidupan manusiapun ada prosesi yang melelahkan dan sangat panjang untuk segera kita lewati bersama dengan berbagai upacara sakral.
Salah satu dari prosesi itu adalah prosesi kelahiran. Kelahiran adalah sebuah anugerah, ini harus dimaknai dengan kelimpahan syukur dengan ‘balas jasa’ pada yang Memberi Syukur. Bersyukur dengan memberi itu boleh, tetapi caranya ini yang kadang tidak bersesuaian dengan Islam, bahkan cenderung menyimpang.
Ketika seorang bayi itu lahir ke dunia, Ia ditemani oleh para penjaganya yang dikenal dengan sedulur papat atau saudara empat, sedangkan dirinya sendiri, si jabang bayi disebut lima pancer atau pusat kelima, inilah paham sakral yang dititiskan selama berabad-abad dan berimplikasi pada ritual serba agung namun sebenarnya melelahkan. Namun sebelum kita beralih ke implikasi dari ajaran ini, akan kita lihat dulu pengertian sedulur papat lima pancer itu sebenarnya apa.
Sedulur papat lima pancer adalah saudara yang menemani sang jabang bayi saat lahir. Ia yang menjaga saat sang jabang bayi masih berada dalam liang garba ibunya. Adapun nama-nama sedulur papat itu adalah Watman, Wahman, Rahman, Ariman. Watman berarti ‘Wat’ kondisi si Ibu yang sedang mengalami perasaan pertama untuk melahirkan, mengejan. Wahman berarti kawah, jalan lahir, terbukanya jalan lahir. Rahman berarti darah yang keluar. Ariman berarti ari-ari atau plasenta yang keluar setelah si jabang bayi.
Sedang penyebutan limo pancer sendiri tak lain adalah si jabang bayi yang lahir. Umumnya kita hanya mengenal kakang kawah adhi ari-ari, tetapi sebetulnya itu hanya dua bagian saja, sebab yang terutama adalah sedulur papat itu tadi.Begitu si jabang bayi ini lahir maka berakhirlah penjagaan dari sedulur papat ini. Ia harus berusaha sendiri dengan berbagai cara untuk menghadapi dunia yang penuh godaan ini. Ini artinya, penjagaan kita tak lain hanyalah pada Allah saja.Sedulur papat tadi bisa dipanggil apabila si jabang bayi sedang memerlukan bantuan dari para sedulurnya itu. Orang jawa meyakini si jabang bayi bisa menemui sedulur papatnya ini, mereka bisa berkomunikasi dan saling menyapa dengan bentuk sesuai dengan si jabang bayi
Kepercayaan inilah yang akhirnya membentuk sebuah perilaku. Yakni kebiasaan orangtua untuk mengubur ari-ari bayi atau plasentanya dari janin yang baru lahir untuk keselamatan si jabang bayi. Mereka menaruh plasenta bayinya, Ariman pada sebuah kendil yang ditanam dalam tanah, kemudian menutupinya dengan sebuah sangkar bambu dan menyalakan pelitanya—lampu bolam 5 watt di atasnya, semua ini dilakukan agar si jabang bayi bisa berkomunikasi dengan saudara-saudaranya yang sebenarnya tinggal ari-arinya saja.

Penjelasan Medis
Ari-ari atau plasenta secara medis berfungsi sebagai penyedia makanan dan saluran lainnya, yang menghubungkan antara janin dengan ibunya. Selama berbulan-bulan, placenta ini sangat berguna bagi bayi di dalam rahim sang ibu. Namun begitu bayi lahir, maka perannya usai sudah.Namun dalam masyarakat tertentu, ada semacam kepercayaan tertentu bahwa di balik fungsi medis, ada hubungan ‘ghaib’ tertentu antara bayi dengan plasentanya. Karena itu, sebagian masyarakat yang mewarisi tradisi kuno ini masih terlihat melakukan berbagai macam ritual yang tidak ada kaitannya dengan agama.
Salah satunya adalah mengubur plasenta di dekat rumah, bahkan harus diberi pelita (lampu). Dan bersamanya juga dikuburkan benda-benda tertentu, yang dipercaya akan berpengaruh atas nasib dan kehidupan si bayi bila kelak dewasa. Lucunya, terkadang sebagian orang melakukan ritual itu begitu saja, tanpa pernah tahu hubungan sebab akibatnya.

Tradisi Lokal
Ahmad Syarwat Lc mengatakan tidak ada satu pun dalil, baik berupa potongan ayat Al-Quran atau hadits nabawi, tentang masalah menanam ari-ari. Bahkan hadits yang paling dhaif atau bahkan hadits palsu sekalipun, sama sekali tidak pernah memuat masalah ini. Jadi ritual ini betul-betul produk lokal, jauh dari bau-bau Islam dan syariatnya. Tak satu ayat Quran menyebutkannya, tidak satu pun hadits nabi menyinggungnya dan tidak ada dalam syariat Islam tentang aturan mainnya.
Sementara, dari sisi aqidah yang bersih, kepercayaan bahwa ada hubungan ghaib antara plasenta dengan nasib seseorang, jelas telah melanggar wilayah syirik. Sehingga ritual tertentu yang dilakukan terhadap plasenta ini, sangat mengganggu hubungan kita sebagai muslim dengan Allah SWT. Selain itu beliau juga mengatakan bahwa nasib seseorang ditentukan bukan dari plasentanya,tetapi oleh tugas pendidikan dari kedua orang tuanya dan lingkungannya, selain itu juga ikhtiar seseorang serta doa-doa yang dipanjatkan.
baby-chocolate
Maka semua itu harus diklarifikasi ulang, tradisi nenek moyang yang bagaimana yang harus kita lestarikan? Sebab tidak semua tradisi itu baik. Bukankah di zaman nenek moyang dulu, juga ada tradisi minum khamar, zina, judi dan seterusnya? Bukan kah dahulu nenek moyang kita menyembah dewa dan berhala? Apakah hari ini akan tetap kita lestarikan budaya-budaya yang negatif dari nenek moyang itu? Tentu tidak, bukan?
Tugas kita sekarang ini adalah berupaya mengikis dan mengurangi secara sistematis, tradisi yang sekiranya bertentang dengan nilai-nilai kemanusiaan serta nilai-nilai keIslaman. Namun bila tradisi itu sesuai dengan Islam, barulah kita lestarikan.

Memendam Plasenta untuk Kebersihan Lingkungan
Kalau sekedar mengubur (memendam) palsenta di dalam tanah, tanpa niat apapun kecuali untuk kebersihan dan kesehatan lingkungan, tentu boleh dan baik. Sebab plasenta itu akan segera membusuk bila tidak dipendam. Jalan terbaik memang dipendam saja, agar tidak merusak lingkungan. Namun tanpa diiringi ritual apa pun yang bisa merusak hubungan mesra kita kepada Allah SWT. Pendam saja dan selesai sehingga kita tidak terjebak dengan ritual-ritual syirik yang memalukan diri kita dihadapan Allah SWT (withpras)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: