jump to navigation

Kupas Tuntas Fenomena Lawang Sewu 2 April 2009

Posted by withpras in Sejarah.
trackback

lawang-sewu-tahun-1972
Proses Perampungan Gedung Seribu Pintu Jadi Kantor PT KAI

Ada yang lain dari gedung lawang sewu, selain tampak beberapa tukang sibuk mengecat dan memperindah bangunan gedung, sebuah loko mesin uap didatangkan untuk menarik pengunjung. Rencananya, gedung ini memang akan dijadikan kantor PT KAI. Adalah sangat menarik gedung ini akhirnya digunakan sebagaimana fungsinya terdahulu sebagai kantor PJKAI, mengingat banyak yang memanfaatkannya untuk fungsi yang lain.

Kesan Lawang Sewu yang identik dengan gedung angker, tempat pembantaian pahlawan-pahlawan Indonesia oleh tentara Jepang sebentar lagi akan sirna, sebab Lawang Sewu sekarang akan dikembalikan sebagai fungsinya semula sebagai gedung perkeretaapian, karena gedung ini sampai sekarang memang masih milik PT KAI yang dulunya PJKA.
Menurut Warsono, Humas PT KAI nantinya Lawang Sewu akan digunakan untuk beberapa kegiatan perkantoran PT KAI. Selain digunakan untuk tempat penjualan tiket KA, gedung yang dibangun pada 1903 ini juga dipakai untuk kantor Badan Pendidikan dan Pusat Kegiatan dan Pelatihan, Kantor Kelompok Property, serta tempat pertemuan. “Gedung Lawang Sewu difungsikan agar lebih tertata dan terawat. Kalau digunakan pasti kan terjaga dan selalu dibersihkan,”
Warsono menambahkan, pihak perusahannya juga telah mendatangkan loko kereta uap dari Ambarawa. Pemasangan loko uap itu sebagai simbol bahwa gedung Lawang Sewu itu adalah kantor PT KAI. Loko dengan kode C 2301 panjang sekitar 20 meter tersebut diharapkan menjadi daya tarik para wisatawan untuk mengunjungi gedung yang sebelumnya bernama Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS) ini.
Mengembalikan fungsi Lawang Sewu sebagaimana mestinya, gedung perkeretaapian milik PT KAI disambut berbagai pihak cukup positif diantaranya adalah Eko Budiharjo, Menurutnya tidak masalah jika lawang sewu dialihkan fungsi menjadi perkantoran. “Asal saja pada renovasinya tidak mengubah bentuk asli dari bangunan tersebut,” tegasnya, mantan rektor Undip ini menambahkan kalau sudah lazim jika bangunan kuno mengalami peralihan fungsi. Ia mencontohkan sebuah bangunan kuno di luar negeri yang awalnya dibangun untuk mesjid, kemudian beralih fungsi menjadi gereja dan akhirnya beralih fungsi lagi menjadi museum. (I-11)

lawangsewu

Tarik Ulur Alih Fungsi Lawang Sewu

Beberapa kali Lawang Sewu akan dimanfaatkan sejumlah investor mulai dari akan dijadikan hotel mewah sampai adu nyali oleh sebuah stasiun televisi, namun akhirnya gedung bersejarah ini tetaplah dijadikan fungsi aslinya sebagai kantor milik PT KAI,
bagaimana proses tarik-ulur ini?

Bentuk bangunan Lawang Sewu yang menarik, eksotis dan bergaya Eropa ini pernah menarik minat para pengusaha hotel dari Malang dan Jakarta untuk membuat hotel mewah bernuansa kuno di Semarang. Dua calon investor yang dianggap berpeluang waktu itu adalah pengelola Hotel Tugu dari Malang dan pengelola baru Hotel Indonesia, Jakarta. Namun dari pihak PT KAI belum menyetujuinya.
Gedung tua yang awalnya milik Nederlandsch Indische Spoorwegen Maanschiej itu dibangun pada tahun 1877. Setelah kemerdekaan, gedung tersebut dikelola Departemen Perhubungan, dan kemudian digunakan oleh Komando Daerah Militer VII/Diponegoro. Sebelum dikosongkan, tahun 1994, gedung ini sempat difungsikan juga sebagai Kantor Wilayah Departemen Perhubungan Jawa Tengah.
Karena dibiarkan tidak berpenghuni selama 10 tahun terakhir dan kurangnya perawatan, kondisi Gedung Lawang Sewu semakin memburuk. Apalagi di musim penghujan seperti saat ini, genangan air ditemukan tidak saja di lantai dasar, tetapi juga di lantai dua, tiga, serta ruang bawah tanah. Inilah yang menyebabkan gedung ini kemudian tampak menyeramkan, hingga sebuah acara di televisi swasta, meliput sebuah penampakan sosok hantu yang ada bawah tanah, hingga kemudian ruang bawah tanah menjadi tempat ‘terfavorit’ bagi para pelancong untuk berwisata spiritual di ruang bawah tanah. Ketika ada pameran barang-barang antik, lukisan dan hasil-hasil kerajinan dan budaya Jawa Tengah, gedung ini dijadikan tempat yang menarik untuk lokasi uji nyali, hanya membayar lima ribu rupiah pengunjung bisa menyaksikan keangkeran gedung lawang sewu, khususnya yang dahulu pernah ada penampakan kuntilanak. (I-11)

Lawang Sewu, Menara Gothic dan Bergaya Art Deco

Gedung megah ini menyimpan riwayat panjang. Dibangun tahun 1903, baru diresmikan penggunaannya 1 Juli 1907 untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.

Di bagian depan bertengger menara kembar, mengingatkan pada bentuk menara gothic. Di belakang menara, gedung ini terbelah dua memanjang jauh ke belakang menyerupai sayap. Masyarakat Semarang menyebutnya Lawang Sewu, artinya Pintu Seribu. Gedung monumental ini memang memiliki banyak pintu di kedua sayapnya. Berjajar di kriri kanan membingkai atapnya yang tinggi. Puluhan ruang tersebar di lantai satu dan dua.
Kecuali di lantai tiga berupa hall yang menurut pemandu di Lawang Sewu, dulunya berfungsi sebagai ruang pertemuan. Di bagian bawah gedung masih ada ruang bawah tanah (bungker).
Masa kemerdekaan, gedung tersebut sempat dipakai Kodam IV/Diponegoro kemudian dikembalikan ke Jawatan Kereta Api (sekarang PT KAI). Kemudian beralih ke tangan Departemen Perhubungan sampai tahun 1994. Setelah itu, gedung yang resminya masih milik PT KAI ini dibiarkan kosong. Tak terpakai selama 13 tahun membuat gedung kotor, berdebu, gelap, dan bocor bila hujan. Sebagian kayunya terlihat lapuk.
Memasuki gedung, mata harus dibiasakan dalam gelap. Setelah beberapa saat pandangan disuguhi pemandangan indah, dinding di puncak tangga utama dihiasi kaca patri warna-warni berpola indah. Memasuki lorong di sayap gedung membuat napas sesak karena debu dan udara lembab. Hati pasti miris melihat semua ruangan tertutup dan terkunci rapat.
Hanya satu kamar yang bisa dibuka dengan kunci yang dipegang pemandu. Masih menurut pemandu, dulunya ruangan itu difungsikan sebagai kamar kerja pimpinan. Ini terlihat dari fasilitas yang ada, seperti kamar mandi yang menyatu dalam ruangan, berukuran lebih besar ketimbang kamar lain, plus balkon menghadap ke Tugu Muda.
Dari sini bisa disaksikan lalu lintas yang memanfaatkan akses persimpangan Tugu Muda.
Sebagaimana bangunan kuno lain, meski berusia hampir satu abad dinding dan tiang-tiang Lawang Sewu masih kokoh. Hanya beberapa bagian kayu jendela dan pintu mulai lapuk. Bau khas tahi kelelawar terbawa desir angina mampir ke hidung. Di lantai tampak genangan air bekas bocor. (I-11)

Lawang Sewu Pernah Difilmkan

Entah karena kepopulerannya atau image yang terekam ‘hantu-hantuan’ sampai-sampai sebuah film tentang lawang sewu telah dibuat, hanya saja Ia memuat lawang sewu dari sudut bangunan angker tanpa pernah bisa melihat sisi keeksotisan lawang sewu sebagai sebuah bangunan bersejarah yang bernilai tinggi.

Film ini bercerita tentang sekelompok remaja yang tengah menikmati masa-masa akhir mereka di SMU dengan berlibur ke Semarang. Perjalanan yang penuh dengan emosi suka cita dan kegembiraan ternyata berbuntut panjang dan berubah menjadi ketegangan dan penuh dengan misteri yang tidak pernah diduga
Semua emosi berbaur di sebuah tempat bernama Lawang Sewu. Rahasia yang mereka tutupi sepanjang perjalanan menuju Lawang Sewu ternyata membawa pada petaka. Satu per satu harus membayarnya dengan nyawa mereka dan rahasia Lawang Sewu pun mulai terkuak
Bahwa dendam belum juga padam di Lawang Sewu. Akibat dari perlombaan kencing dalam keadaan mabuk. Hal yang tidak pernah mereka mengerti sebelumnya. Memberi pelajaran dan pengalaman berharga bagi mereka yang tersisa, bahwa di tempat keramat mereka tidak bisa sembarangan. (I-11)
lawang-sewu-4

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: