jump to navigation

Masjid Pekayuan Dengan Atap Tumpang Tiga 2 April 2009

Posted by withpras in Sejarah.
trackback

Masjid Taqwa Sekayu
Masjid ini sekilas mirip Masjid Demak dengan empat soko tatal dan bentuk atap tumpang tiga, akulturasi dari Hindu-Islam. Meskipun begitu keduanya punya sejarah yang berbeda.

Menelusuri jejak Masjid Taqwa Sekayu di kampung Sekayu atau Pekayuan bagi yang tidak terbiasa akan sulit mencari lokasinya. Ini karena lokasi yang terpencil, di jalan Pemuda ini tertutup oleh gedung-gedung megah, instansi pemerintah, pusat-pusat hiburan dan pendidikan yang mulai tumbuh di ibukota Jawa Tengah ini.

Kampung Sekayu memang unik, Ia mempunyai sejarah tersendiri dan masih tersisa hingga kini. Tengoklah gang-gang di kampung ini yang diabadikan dari nama-nama pusat pemerintahan yang dulu pernah ada, Sekayu Kepatihan, Sekayu Tumenggungan, Sekayu Masjid Bedagan, dan sebagainya. Nama-nama kampung semacam itu berhubungan dengan keberadaan Kabupaten Semarang yang berada di bawah kekuasaan Demak sebagai pusat pemerintahan di Jawa.. Kepatihan misalnya, merupakan tempat tinggal patih, Tumenggungan berarti tempat tinggal Tumenggung. sedangkan Bedagan adalah tempat berburu bagi bupati dan keluarganya.
Masjid Taqwanya sendiri terletak di gang sempit Sekayu yang dinamakan Sekayu Masjid. Bangunan masjid yang besar, menutup jalan di kiri kanannya yang sempit, juga rumah-rumah penduduk yang terlihat lebih rendah, sehingga pemandangan yang tersisa kelihatan begitu kontras.
Ketika PESAN-Trend berusaha kesana, nampak sedang dibangun sebuah menara untuk melengkapi arsitektur masjid. Masjid Sekayu ini dari jauh memang mirip dengan masjid Demak, terutama dengan adanya atap tumpang tiga sebagai padu padan akulturasi antara Hinduisme dan Jawa yang begitu lekat. Lebih mencirikan sebuah bentuk bangunan Pura—tempat ibadah agama Hindu, tetapi oleh Sunan Kalijaga bisa ditransformasikan ke dalam nilai-nilai Islam yakni, iman, islam dan ihsan. Sebuah fase keimanan seorang mukmin untuk mencapai tahap kesempurnaan.

Material Bangunan
Pondasi bangunan masjid Taqwa sendiri dari batu. Sistem struktur dari kayu dengan dinding dari papan kayu. Dinding luar yang membatasi masjid ini kini telah diganti dengan dinding bata berplester dengan strukturisasi beton bertulang. Lantai bangunan diangkat dan pintu masuk ke masjid bertrap. Bentuk atapnya adalah tajuk bersusun dengan mahkota pada puncaknya. Bahan penutup atap adalah genteng. Tritisan tidak begitu lebar, yang disangga dengan konsol-konsol kayu sederhana. Usuk tidak terendah, sedangkan listplank berbentuk sederhana. Pada ujung-ujung bubungan terdapat hiasan lengkung dengan ukiran. terdapat jendela loteng sederhana dari kayu pada keempat sisi dinding menara yang terbuat dari papan-papan. Pintu masuk masjid ini berupa pintu tunggal dengan trap dibawahnya. Pintu berpanel kayu dengan dua jendela kayu yang mengapit pintu masuk. Pada sisi lain dinding terdapat lubang angin dengan lubang-lubang yang membentuk motif bunga dari batu, ada kemungkinan lubang angin ini merupakan tambahan yang dibuat bersamaan dengan pemugaran dinding luar bangunan masjid.
Masjid Sekayu sebagai tempat ibadah bagi kaum Islam di daerah Kampung Sekayu merupakan bangunan yang cukup tua diliat dari bentuknya. Beberapa perubahan yang cukup besar sudah dilakukan pada masjid ini, antara lain dinding luar yang membatasi masjid ini telah diubah dari dinding kayu menjadi dinding bata. Keadaan bangunan juga cukup terawat.
Pada saat kabupaten berada di Sekayu, Masjid Pekayuan atau Masjid Sekayu difungsikan sebagai masjid besar. Tetapi belum jelas benar apakah keberadaan masjid tersebut sudah ada sebelum perpindahan kabupaten atau baru dibangun setelah itu. Namun menurut Supriya Priyanto, seorang peneliti struktur kota Semarang dari Undip mengatakan kalau kemungkinan masjid itu sudah ada sebelumnya. Hal itu didasarkan pada ukuran Masjid Sekayu yang tak terlampau besar. Masa pemerintahan trah Sebayu yang singkat, yakni hanya sekitar tujuh tahun, menyebabkan mereka belum sempat membangun masjid baru yang lebih representatif. Dengan begitu, masjid lama yang sebelumnya sudah ada dimanfaatkan sebagai masjid resmi kabupaten atau acap disebut Masjid Besar Semarang.

Masjid Tertua

Masjid Taqwa Sekayu merupakan salah satu masjid tertua di Kota Semarang. Diperkirakan, usianya telah mencapai 565 tahun atau berdiri pada tahun 1438 Masehi. ”Masjid tersebut dibangun Kiai Kamal, seorang ulama asal Cirebon,” tutur H Iskandar Hadi Prayitno, Ketua Takmir Masjid Taqwa. Yang menunjukkan ketuaan masjid, yakni empat saka guru/tiang utama dengan ukuran 30×30 cm masih berada di tengah bangunan induk. Atap itu bersusun dengan mahkota pada puncaknya. ”Yang tersisa ya dua bagian itu,” lanjut Iskandar.
Bangunan seperti tembok, atap genteng, bangunan tambahan di bagian depan dan bangunan lainnya merupakan hasil renovasi pada tahun 1955. Padahal bentuk asli dinding masjid terbuat dari gebyok kayu, atap dari semacam rumbia, bagian depan masjid berupa kolah (bak besar) untuk wudu.
”Sekarang, dinding luar yang membatasi masjid telah diganti dengan dinding bata yang sudah disemen halus dengan struktur beton bertulang. Lantai bangunan pun diangkat, sedangkan pintu masuk ke masjid menjadi bertrap,” tuturnya. Bagaimana kali pertama masjid tersebut dibangun? Iskandar menuturkan, dibandingkan dengan usia Masjid Agung Demak, konon masjid Sekayu ini lebih tua. Sebab, masjid Sekayu ini dibangun dalam rangkaian proses pembangunan Masjid Agung Demak.Dijelaskannya, Kiai Kamal merupakan salah satu ulama yang membantu pembangunan Masjid Demak. Bahan baku pembangunan masjid yakni kayu, disuplai oleh Kiai Kamal asal Cirebon. ”Setelah datang di Semarang, beliau lalu mendatangkan kayu jati dari hutan di wilayah Ungaran melalui perjalanan darat ke Sekayu (dulu disebut Pekayu). Dari Sekayu, kayu-kayu tersebut kemudian dikirim ke Demak melalui Kali Semarang. Kala itu di dekat masjid ini masih mengalir Kali Semarang. Namun pada zaman Belanda aliran sungai dialihkan dan bekas sungai menjadi permukiman seperti sekarang ini,” dia menjelaskan.
Waktu itu, pengiriman kayu itu tidak berjalan lancar. Di Sekayu, para tenaga kerja yang dikerahkan Kiai Kamal butuh istirahat dan tempat peristirahatan. Lalu, dibangunlah tempat istirahat di Sekayu. Lambat laun tempat peristirahatan itu menjadi musala dan masjid. (withpras)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: